Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

SEJARAH NATAL

Kelahiran Yesus Menurut Bibel Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih - yang mereka sebut Tuhan Yesus. Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325 - 354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut dipilih sebagai Natal karena bertepatan dengan kelahiran Dewa Matahari (Natalis Solis Invicti atau Sol Invictus atau Saturnalia) yang disembah oleh bangsa Romawi. Perayaan Saturnalia sendiri dilakukan oleh orang Romawi kuno untuk memohon agar Matahari kembali kepada terangnya yang hangat (Posisi bumi pada bulan Desember menjauh dari matahari, seolah-olah mataharilah yang menjauh dari bumi). Akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal). Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1- 8 dan Matius 2:1, 10, 11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).
Lukas 2:1-8:Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dan kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung. Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat yang bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
Jadi, menurut Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 Romawi). Sedangkan Menurut Matius 2:1, 10, 11: Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya. Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintahkan tahun 37 SM - 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.
Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.
Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al Qur'an telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa alaihissalam).
"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu". (Surat Maryam: 23-25).
Jadi menurut Al Qur'an, Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible - seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23) : Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus - September. Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity - seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:
There is, moreover, no authority for the belief than December 25 was the actual birthday of Jesus. If we can give any credence to the bith-story of Luke, with the shepherds keeping watch by night in the fields near Bethlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, when the night temperature is so law in the hill country of judea that snow is not uncommon. After much argument our christmas day seems to have been accepted about A.D. 3000.
(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Behtlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pengunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 200 Masehi).
Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?
Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh seorang biarawan yang bernama Dionysius Exignus justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Tahun Masehi yang di gunakan sekarang ini disebut juga anno Domini (Tahun Tuhan). Namun Injil Lukas 2:1 (sudah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi - 14 Sesudah Masehi. Sedangkan Matius 2:1 (juga telah dikutip) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi - 4 sesudah Masehi.
Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah masehi. Antara lain kita kutip buku tulisan Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. yang berjudul The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:
Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diajui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus yang masih bayi yang katanya bakal jadi raja orang-orang Yahudi, maka jelaslah tanggal lahir Yesus harus digeser ke belakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun ke belakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanannya juga harus dibangkitkan kembali).
Meskipun dirayakan setiap tahunnya, natal sendiri yang banyak mengandung kontroversi sehingga ada juga yang tidak merayakan dan meyakininya. Dua aliran Kristen yang tidak merayakan tradisi Natal, yaitu aliran Advent dan Saksi-Saksi Yehuwa. Berkenaan Saksi-Saksi Yehuwa, mereka mulai tidak merayakan Natal sejak tahun 1926 ketika mereka mengetahui bahwa Natal mempunyai asal-usul Kafir.
Berdasarkan pernyataan di atas dapatlah diketahui bahwa perayaan natal bukanlah perayaan untuk memperingati hari kelahiran Jesus Kristus karena Jesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember melainkan untuk memperingati Dewa Pertanian Saturnus dan dilain versi mengatakan bahwa untuk memperingati kelahiran anak dewa matahari yang disembah oleh orang-orang Romawi. Dari penjelasan di atas, dapatlah diketahui bahwa umat Kristen tidak ragu mengklaim sesuatu tentang Yesus, walaupun sesuatu itu bukanlah berasal dari Yesus sendiri. Seperti ketika mereka menklaim bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, padahal tak ada seorang umat Kristen pun yang tahu secara pasti kapan Yesus dilahirkan. Ini merupakan contoh kecil bagi kita semua tentang ketidakmurnian ajaran agama (Kristen) ini. Penetapan tanggal 25 Desember adalah berdasarkan ketentuan kaisar Konstantin, bukan atas dasar bukti sejarah. Sayangnya, tidak banyak orang Kristen yang mengetahui dan memahami hal ini. Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal. Jadi sampai hari inipun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan. Wallahu a’lam.

Rabu, 19 Oktober 2011

Agama Zarathustra / Zaroaster / Zoroatrianism

Sejarah singkat
Agama Zoroaster (Zoroatrianism) merupakan agama kuno / purbakala bangsa Arya yang berasal dari Persia kurang lebih 2500 tahun yang lalu. Meskipun memiliki sedikit pengikut, tidak kurang dari 130.000 orang diseluruh dunia, agama ini termasuk agama tertua di dunia. Seperti halnya agama Yahudi, Kristen dan Islam agama ini juga menganut ajaran Monoteisme.
Agama Zarathustra dinamakan sesuai dengan nama pendirinya yaitu Zarathustra (660-583 SM) yang merupakan seorang nabi persia yang dikenal juga dengan Persianisme, seperti juga halnya dengan agama Ibrahim (Millata Ibrahim), agama Ishak, agama Musa, agama Daud, agama Sulaiman, dan sebagainya. Agama ini juga dekenal sebagai agama penyembah api (Magianism).
Agama itu bermula tumbuh di dalam wilayah Azarbaijan sebelah utara Iran. Oleh karena mendapat tantangan dari bangsanya disana maka Zarathustra berangkat dan pindah menuju Balkh, ibukota wilayah Baktria di Asia tengah. Didepan balai kerajaan raja kavi Vishtaspa, dalam suatu dialog agama, ia berhasil menundukkan dan mengalahkan kaum majus (Magians) hingga raja beserta seluruh keluarganya memluk agama Zarathustra dan mengumumkannya sebagai agama resmi didalam wilayah Bakhtria.
Raja Vishtaspa itu, yang dalam literature di Barat dikenal dengan Kings Hystaspes, berasal dari keluarga Hakkham. Seorang cucunya yaitu Cyrus the Great (559-529 SM) berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil diseluruh wilayah Iran dan membangun sebuah Imperium Parsi yang dikenal dngan dinasti Hakkham (600-331 SB), dan dunia barat mengenalnya dengan dinasti Achaemenids. Ibukotanya dipindahkan dari Balkh ke kota Sussa di sebelah timur sungai Tigris, kemudian ke Persepolis (Istakhri).
Raja-raja dari dinasti Achaemenids adalah penganut agama Zarathustra sampai kepada raja Darius III (363-331 SM). Pada masa inilah imperium parsi itu ditaklukkan oleh Alexander the Great (356-323SM) dari Macedonia dan lalau berlangsung Hellenisasi yang intensif diseluruh wilayah Iran.
Setelah raja-raja Achaemenids itu pertumbuhan kekuasaannya sampai pada masa tumbangnya terbagiatas 3 tahap masa, yaitu:
1. Masa 600-550 sebelum masehi, yaitu dalam mansa 150 tahun merupakan masa pertumbuhan kekuasaan dan pengembangan agama Zarathustra.
2. Masa 550-486 sebelum masehi, yaitu dalam masa 65 tahun merupakan masa perluasan kekuasaan dan perluasan pengaruh agama Zarathustra.
3. Masa 486-331 sebelum masehi, yaitu dalam masa 156 tahun merupakan masa sengketa yang terus menerus dengan pihak Grik.
Di dalam wilayah yang luas ini berlangsung Hellenisasi, pemaksaan akan kebudayaan Grik, mithologi Grik, serta Filsafat Grik, dan di anak benua India mereka meninggalkan jejaknya berupa seni pahat patung. Dengan berlangsungnya Hellenisasi sekitar 5 abad lamanya di wilayah Iran, dibawah dinasti Seleucids (248-226 SM) maka bahasa Iran tua pun lenyap dari pergaulan sehari-hari digantikan oleh bahasa pahlevi tua, yaitu perpaduan antara bahasa Grik dan bahasa Iran.
Sementara itu mithologi Grik yang memuja Dewa Zeus yang melambangkan Dewa Matahari, beserta pemujaan dewa lainnya, lantas diserap oleh masyarakat seluruhnya hingga agama Zarathustra yang aslinya menganut Monotheism itu bergantikan aliran-aliran Mazdism, dan Manichaenism.
Aliran-aliran itu berkembang dan menjadi panutan rakyat pada umumnya dari abad ke abad sampai kepada masa pertumbuhan dan perkembangan kekuasaan nasional Iran kembali, yaitu dibawah dinasti Sassanids (226-641 M). Diantara aliran-aliran yang paling berpengaruh bagi agama ini adalah Mazdaism yang lambat laun dikenal sebagai agama Majusi karena upacara-upacara kebaktian dilaksanakan melalaui para pendeta kuil yang disebut dengan kaum Majus (Magians).
Pada tahun 641 M, yaitu pada masa pemerintahan koshru Yesdegird III (634-641 M), kekuasaan Sassanids di tanah Iran ditumbangkan oleh kekuasaan Islam yakni pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (634-644 M). Dan itulah perkembangan terakhir dari agama Zarathustra sepanjang sejarahnya semenjak 12 abad lamanya, lantas terdesak oleh pengaruh agama Islam di tanah Iran.
Kitab Suci dalam agama Zarathustra
Kitab sucinya terdiri dari Dasatir dan Vesta atau Zend-Avesta. Arti Dasatir adalah buku sepuluh bagian. Das artinya sepuluh dan tir adalah bagian. Dasatir adalah bentuk jamak dari dastur, dimana berartikan hukum atau kode agama. Berasal dari akar kata avistak yang berarti bacaan, yang juga hampir bersamaan maknanya dengan Taurat dan Al-Qur’an, yaitu kitab suci agama Yahudi dan agama Islam, Sedangkan pegertian lebih lanjut dari makna Avesta adalah pengetahuan, yang hampir sama dengan makna veda, kitab suci agama brahma di India. Karena akar kata keduanya sebenarnya berasal dari satu rumpun bahasa, hal seperti biasa terjadi dalam bidang linguistic.
Dasatir dibagi menjadi menjadi 2 bagian yaitu: Khurda Dasatir dan Klan Dasatir. Avesta lebih lanjut dibagi menjadi Khurda avesta dan kalan Avesta yang juga dikenal dengan Zend- atau Maha-Zend. Kitab suci Persi ditemukan dalam 2 bahasa: Pahlawi (Naskah Pahlawi mirip dengan naskah Persia sekarang) dan Zendi. Disamping kedua naskah itu, beberapa literature religious atau tulisan kesusteraan tertulis dan ditemukan dalam tulisan kuno yang masih berbentuk baji.
Beberapa orang Persi menganggap Zend Avesta lebih otentik daripada dasatir sedangkan sebagian menganggap Dasatir olebih otentik. Zend Avesta dibagi dalam 3 bagian: Bagian pertama berisi Vendid, bagian kedua berisi Sirozahs, Yashts, dan Nyays, dan bagian terakhir berisi Gathas, Yasha, Visparid, Afrinagan Gahs dan lain-lain.
Sebagaimana Alkitab (Biblia) yang merupakan himpunan kitab suci agama yahudi yang terdiri dari 36 kitab, yang oleh dunia Kristen dikenal dengan perjanjian lama (old testament), maka kitab suci Avesta itu dahulunya terdirinya atas 21 buah kitab, tetapi kini Cuma tinggal 5 buah kitab saja, yaitu :
1. Yasna, terdiri dari 72 buah Haiti (fasal) yang kesemuanya terbagi menjadi 3 bagian:
1) Bagian pengantar , yaitu fasal 1-27 tentang minuman suci yang disebut Hooma.
2) Gatha’ ialah fasal 28-54, berisikan bimbingan dan tuntunan.
3) APERO YASNO / yasna, ialah fasal 55-72, berisikan himpunan nyanyian pujaan terhadap kodrat-kodrat ghaib.
2. Vispered, bermakan kodrat-kodrat terkemuka berisikan pembahasan tentang kodrat-kodrat gaib yang terpandang paling terkemuka dan yang semuanya itu tunduk kepada kodrat Tunggal yang Maha Bijaksana (Ahura Mazda).
3. Vendibad, berisikan hukum-hukum agama yang berisikan hukum-hukum agama terdiri atas 22 buah fargard (bab)
4. Yasht, berisikan kumpilan nyanyian keagamaan (hymns) terhadap para Izad, yakni kodrat-kodrat ghaib yang mulia, berisikan 21 buah nyanyian lagu pujian.
5. Khorda Avesta, atau avesta kecil yang berisikan kumpulan nyanyian agamawi berbentuk singkat untuk digunakan oleh seluruh orang yang beriman dari kalangan awwam, didalam kebaktian sehari-hari.
Tentang kitab suci avesta yang terdiri dari 21 buah kitab itu, manurut Pahlavi-Dikard, Cuma ada dua buah naskah saja pada masa purbakala itu, tatkala pasukan besar Grik dibawah pimpinana Alexander the Great pada tahun 331 sebelum Masehi menyerbu dan menaklukkan imperium parsi ditanah Iran, maka terjadilah bencana yang Mahadahsyat. Ibukota Perseopolis dihancurkan, dan seluruh literature Iran tua dimusnahkan dan penggunaan bahasa Grik dipaksakan, pemujaan atas dewa-dewa (Paganism) menurut mithologi Grik tua itu disebarluaskan dalam kalangan rakyat taklukkan itu.
Mengenai naskah lengkap dari kitab suci avesta yang 2 buah itu, maka sebuah diantaranya dimusnahkan, dan yang sebuah lagi dikirimkan oleh Alexander the Great kepada gurunya Aristotles (384-322 SM) di Athena, lantas nasib naskah tersebut tidak diketahui lagi keberadaannaya.
Pengaruh kebudayaan Grik ditanah Iran itu berkelanjutan sampai 5 abad lamanya. Sampai awal abad ke 2 Masehi, dibawah dinasti Seleucids dan dinasti Arcasids. Sampai saat ini Cuma sebuah kitab saja yang agak utuh yaitu kitab ke XIX, kitab Vendidad, berisikan hukum-hukum didalam agama Zarathustra.
Penyusunan kembali tidak lagi menggunakan bahasa Iran tua akan tetapi dalam bahasa Pahlevi tua, karena bahasa Iran tua sudah tidak dikanal lagi oleh masyarakat umum kecuali sedikit dari kaum terpelajar. Oleh karena kumpulan yang ada itu terdiri dari kepingan-kepingan (Fragment) yang tidak teratur, mau tidak mau terpaksa diciptakan ayat-ayat baru guna melengkapi urutan ayat-ayat pada suatu fasal. Dan dengan cara serupa maka tersusun 5 buah kitab yang ada sekarang ini,dan itulah yang kini dinyatakan sebagai kitab suci Avesta. Sesudah kitab suci Avesta yang baru terbentuk nasib dari kepingan-kepingan naskah aslinya tidak diketahui keberadaannya.
Keyakinan tua Iran.
Penduduk Iran Tua itu merupakan keturunan darah Arya yang melakukan perpindahan pada zaman purbakala kea rah selatan, yaitu tanah Iran dan tanah India. Seperti halnya kaum primitive lainnya , mereka masih terikat pada kodra-kodrat alami.
Kelompok-kelompok pengmbara yang berdiam pada padang-padang pengembalaan di tanah Iran, dimana Air dirasakan sebagai suatu kebutuhan yang sangat penting, maka sudah wajar apabila Dewa Air mendapat kedudukan dibawah dewa Api. Disamping itu dipuja juga dewa Bumi beserta dewa-dewa lainnya. Jadi kodrat-kodrat yang sangat dipuja adalah yang menguasai ketiga unsur tersebut.
Keyakinan tua tersebut diwarisi tutun temurun dalam perkembangan bangsa Iran tua. Kuil-kuil bagian pemujaan dewa Api berdiri disan-sini, dikenal dengan kuil Api ( Fire Temples) dan upacara-upacara pemujaan diselenggarakan melalui para pendeta (priest) yang dipanggil Majus (Magians), hingga keyakinan tua itu lebih dikenal dengan: keyakinana Majusi.


Kelahiran Zarathustra
Sebelah Utara tanah Iran, didalam kota Azarbaijan, tinggal seorang lelaki bernama Porushop Spitama, dari suku spitama, bersama istrinya Dughdova yang cantik jelita yang ketika itu masih berusia 15 tahun, lebih kurang pada tahun 660 SM, isterinya yang belum dijamah suaminya itu melahirkan seorang putera yang diberi nama Zarathustra.
Pada saat kelahiran bayi itu kepala kaum majus di tanah Iran bernama Durashan mendadak gemetar ketakutan amat sangat dan beroleh firasat bahwa seorang bayi baru telah lahir kedunia yang kelak akan menghancurkan agama majusi beserta pemujaaan berhala dan akan memusnahkan kaum majus dari permukaan bumi.
Khalwat Zarathustra
Zaratahustra sewaktu masih kecil diceritakan sagat cerdas dan tangkas bicara sehingga teman-temannya sangat segan kepadanya. Dalam usia 15 tahun ia memproleh costi (ikat pinggang suci = sacred girdle) sebagai tanda lulus pelajaran keagamaan, tetapi ia tidak merasa puas dan yakin akan ajaran keagamaan yang dipelajarinya itu. Menjelang umur 20 tahun ia gemar mengembara kesana kemari serta memberikan bantuan kepada orang yang melarat dan kesusahan. Dan pada usia 20 tahun ia pun dikawainkan oleh ibunya dengan seorang gadis bernama Havivi.
Masa 10 tahun berikutnya dilaluinya dengan kegelisahan di dalam jiwanya. Saat usianya 30 tahun terjadilah sebuah titik balik yang sangat menentukan. Pada suatu hari ia berkata kepada istrinya : “ saya akan pergi berkhalwat untuk memproleh ketentraman pikiran. Saya berharap dapat menemukan sumber penderitaan di Dunia Ini.” Dan ia pun berkhalwat dalams ebuah gua pada Gunung Sabalan dan disitulah ia meproleh pencerahan dan Ilham dari Ahura Mazda.
Zarathustra terpaksa pindah
Masa 10 tahun berikutnya dilewatinya untuk menyebarkan agama barunya tersebut ke kota kelahirannya di wilayah utara Iran. Tetapi dalam masa tersebut hanya seorang saja yang beriman di kota kelahirannya tersebut, disebabkan tantangan yang sengit dikiri dan kanan. Ia mengajarkan tentang kodrat Maha Tunggal yang bijaksana yang tak dapat disaksikan dan dilihat dan diraba, dan hal tersebut direspon dengan ejekan dan penghinaan, ia banyak bersabar dan terus memprcayai janji dari Ahura Mazda, hingga pada akhirnya ia memanjatkan permohonana dan lalu keluar perintah supaya hijrah dari situ, ia pun hijrah ke daerah Balk di Asia tengah.


Dakwah di kota Balkh
Balkh adalah ibukota wilayah Baktria (Bactria), terletak dalam wilayah Asia tengah, berbatasan dengan kerajaan Turania. Kota tersebut diganti namanya saat penaklukkan oleh Alexandr the Great dengan nama Alexander arion, dan saat bangkitnya kembali kekuasaan nasional bagsa Iran dibawah dinasti Sassanids diganti namanya seperti semula Balkh.
Zarathustra datang kesana dan melakukan tantangan terhadap sekalian ilmuan dan agamawan yang ada. Laju Raja memanggil mereka dan terjadilah perdebatan yang sangat sengit 3 hari 3 malam lamanya dibalai yang disaksikan raja. Disanalah ia bisa mematahkan segenap pendirian lawannya.
Setiap orang yang beriman itu dipanggil Madryasnan dan setiap yang menetang dan meyangkal disebut Kharfaster. Masa 20 tahun terakhir dalam hidupnya ia diliputi kegiatan yang tiada taranya. Mulai dari peperangan dengan raja-raja disekitar Bakhtria dimana ia menjanjikan bantuan Tuhan kepada raja Vishtaspa. Tantangan paling sengit datang dari raja Turania, dan terjadilah peperangan yang dahsyat antara kedua kerajaan tersebut. Dan konon pada saat serangan itulah Zarathustra meninggal ditikam oleh askar Turania dan wafat pada usia 77 tahun. Berita keamtian tersebut membangkitakan semangat berani mati pasukan raja Vishtaspa sehingga mereka dapat merebut kembali kota Balkh dari raja Turania. Zarathustra sewaktu wafatnya meniggalkan 3 istri, 3 puteri, dan 3 putra.
Keyakinan tentang Ahura Mazda
Pengakuan keimanan (credo=Syahadat) yang harus diucapakan setiap orang yang beriman dalam agama Zarathustra. Keimanan yang paling pokok dalam agama ini adalah pengakuan terhadap Ahura Mazda, terhadap kodrat yang maha tunggal dan maha bijaksana.
Menurut Zarathustra alamsemesta ini dikuasai oleh kodrat Maha Bijaksana (Ahura Mazda) yang Maha bijaksana senantiasa berhadapan dengan kodrat angkara murka (angro mainyu). Agar manusia memproleh keselamatan haruslah menundukkan diri sepenuhnya kepada Ahura Mazda. Dan dalam gua itulah ia memproleh jabatan kerasulannya. Ia menyambut gelar kerasulannya dengan kesediaan diri untuk mengorbankan apapun juga, untuk siapapun juga demi penyebaran agama tersebut, dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Ahura Mazda dan hanya mempercayai Ahura Mazda saja.

Menurutnya Ahura Mazda berdiri sebagai Tuhan dalam pengertian Monoteism sacara langsung. Inti ajaran Zorotrianism adalah pertarungan antara kebajikan dan kejahatan, dimana bumi merupakan medan pertempuran tempat berlangsungnya pertempuran besar antara spenta Mainyu, roh kebajikan, dan roh kejahatan, Angra Mainyu. Ahura Mazda menyerukan agar manusia ikut berjuang dalam perang dengan mengabdi kepada jalan pikiran, ucapan dan perbuatan baik. Dan setiap manusia akan diadili sesuai dengan seberapa jauh ia telah berjuang.
Zarathustra membuat beberapa syair puji-pujian yang disebut GHATA, yang dihimpun dalam kitab suci AVESTA. Menurut Avesta dunia akan berakhir dengan kebakaran besar, dan hanya yang berbuat kebajikan yang akan hidup kembali di alam yang baru.
Sampai saat itu tiba, semua orang yang mati diharuskan melewati titian atau jembatan penentuan. Orang yang baik akan selamat tiba di seberang menugggu datangnya saat tersebut di sorga. Yang berbuat jahat menunggu di neraka.

Ahura Mazda itu dalam kitab suci Avesta itu disebutkan sebagai:
1. Creator, sang Pencipta
2. All seeing, Maha Melihat
3. Most Mighty, Greatest atau yang maha kuasa
4. Most Beneficent, yang Maha Murah
5. All Knowing, Maha Tahu
6. Most Bountiful, Maha Asih
Daftar yang lebih panjang berisikan 101 buah nama terbaik dari Ahura Mazda.
Kodrat-kodrat rohani itu terbagi kedalam 2 golongan Spenta Mainyu dan Angra Mainyu. Spenta Mainyu itu bermakana mainyu yang baik, dan para penganutnya itu disebut ahuras, sedangkan angra mainyu berarti yang angkara / jahat, adapun pengikutnya disebut daevas.
Ajaran tentang Eskatologi
Eskatologi (eschatology) berasal dari kata Grik eschatos bermakna: akhir keseluruhan. Yang maksudnya: ajaran atau doktrin tentang akhir segala perkara, tentang maut, tentang kebangkitan kembali, tentang peradilan terakhir, dan tentang hidup kekal selanjutnya, sebagaimana hampir seluruh agama memiliki doktrin serupa.
Menjelang akhir zaman akan turun 3 juru selamat yaitu: Aushedar, Aushedar-mah, dan yang terakhir Shayoshant. Kedatangan ketiganya akan menegakkan keadilan dan memusnahklan kezaliaman. Wallahu ‘alam bishsawab.

Rabu, 02 Juni 2010

Tuhan semua Agama

Sedikitnya ada empat persoalan fundamental yang muncul jika kita berbicara mengenai Tuhan. Yang pertama, Seberapa jauhkah manusia bisa mengenal Tuhan dengan Benar?. kedua Bisakah Tuhan Yang Absolut dikenali oleh manusia?. Ketiga, Adakah dengan banyaknya nama Tuhan berarti secara ontologis juga terdapat banyak Tuhan?. Keempat, Adakah kesamaan antara Tuhan yang dipuja oleh orang yang beragama Yahudi, Kristen, Islam, & Pemeluk agama-agama lain? Itulah mengapa lahir istilah hanya ada satu tuhan dan dengan banyak nama.
Beranjak dari persoalan ini penulis mencoba untuk membahas satu diantara. Pluralitas nama Tuhan yang dikenal dalam berbagai tradisi pemikiran keagamaan.
Sejarah Tumbuh Kembangnya Monoteisme & Politeisme
Monoteisme merupakan sebuah aliran kepercayaan yang meyakini bahwa Tuhan adalah satu , sedangkan Politeisme adalah kepercayaan bahwa manusia memiliki banyak Tuhan. Apakah Tuhan Monoteisme lebih dahulu muncul ataukah Tuhan Politeisme?
Menurut Komar & Nafis bahwa Monoteisme muncul lebih awal, sebagaimana yang mereka berdua kutip dari Wilhem Schmidt dalam bukunya The Origin of the Idea of God (1912), sedangkan peneliti yang paling otoritatif dalam pembahasan terhadap sejarah Tuhan adalah karen Amstrong yang pernah ditulis pada karyanya A History of God, The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity ad Islam (1993). Kemudian persoalan kepercayaan terhadap keyakinan Tuhan banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dan beralih kepada Politeisme. Sehingga agama-agama Semitik sesungguhnya bukanlah hal yang baru akan tetapi merupakan mempertegas & memperjelas kembali paham yang telah ada karena beberapa faktor maka ajaran tersebut menjadi samar-samar.
Dalam sejarahnya, manusia menyebut Tuhan Yang Esa dan Mutlak itu dengan bebagai nama dan Istilah, namun secara substansial, beragama itu menunjuk kepada Dzat yang sama. Tuhan sebagai wujud Absolut inilah yang dijadikan obyek pujaan karena fungsi dan posisi-Nya yang diyakini oleh manusia sebaga pencipta maka antara Tuhan dan manusia selalu ada “jarak” yang amat jauh sehingga manusia bersikap “paradoksal” dalam memposisikan Tuhan. Dikatakan paradok bahwa Tuhan dianggap memiliki jarak yang amat jauh bahkan manusia tidak sampai kepada Tuhan ini disebut dengan transcendent, sedangkan lawan dari itu adalah immanent bahwa sekaligus bersama & didalam diri manusia. Konsekuensinya, maka Yang Satu & Absolute karena tidak mungkin “ditaklukkan” oleh kapasitas pemahaman nalar manusia- ditangkap kehadiran-Nya melalui simbol-simbol yang disakralkan sehingga di mata manusia lalu muncul bentuk Tuhan-tuhan yang plural.
Sepanjang zaman memang Tuhan menjadi teka-teki intelektual sehingga mendorong para teolog¬¬¬¬¬¬¬ (dalam hal ini Nabi) & filosof mencari-cari pemahaman tentang Tuhan. Namun, pemahaman para filosof seperti Aristotle berusaha menemukan Tuhan melalui pikirannya dan hasilnya ia menyimpulkan bahwa konsep Tuhan dicipta dari teori fisika yang problematik. Hal ini senada apa yang diungkapkan oleh Hamid Fahmy Zarkasyi pada abstraknya:
“Aristotle’s concept of God, which was known as Unmoved Mover is established from the theory of physics. His renowned theory is that God is pure actuality and does not undergo any change”.
Konsep Tuhan Aristotle yang terkenal dengan nama Unmoved dicipta dari teori fisika. Teori yang terkenal itu menyatakan bahwa Tuhan adalah aktualisasi murni dan tidak mengalami perubahan sedikit pun. Oleh sebab itu Gerson menyimpulkan bahwa Aristotle tidak mempunyai nalar metafisika yang untuk membuktikan adanya wujud yang memiliki aktualitas sempurna. Inilah yang menjadi kelemahan Aristotle ketika mentransfer argumentasi fisika ke dalam argumentasi metafisika. Untuk menjadi seorang monoteis bisa saja seseorang memperolehnya tidak harus melalui teks-teks Kitab Suci melainkan bisa juga melalui penalaran, pengalaman dan perenungan hidup. Terkait dengan ada kekuatan Gaib maka Komar & Nafis memberikan uraian bahwa Tuhan itu adalah misteri, dalam arti manusia memang meyakini akan kekuatan dan keberadaan-Nya, namun manusia merasa tidak mampu secara pasti dengan kekuatan nalar dan indranya. Tetapi Dia sembunyi di balik tabir. Jika Tuhan adalah Maha Gaib, maka diluar Tuhan banyak juga hal-hal yang Gaib seperti halnya fenomena roh.
Terminologi Nama Tuhan
Bahasa sekali waktu bisa dipahami sebagai alat (tool), seperti halnya pisau, bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan perasaan senang, sedih, prihatin dan lainnya dismping itu bahasa juga bias menjadi alat penamaan atau labelisasi terhadap sebuah obyek .
berbicara tentang ihwal nama yang bernuansa pada pembahasan jelas antara perbedaan religious language dan scientific language. Kemudian ada pertanyaan bagaimana mungkin manusia dapat mempertahankan pendapatnya sedangkan manusia sudah sepakat bahwa Tuhan diluar jangkauan manusia. Dan bagi agnostisisme pernyataan Tuhan ada ataupun Tuhan tidak ada, keduanya sama saja nilainya karena kedua proposisi tidak dapat diverifikasi.
Scientific language atau bahasa ilmiah kadang bagi Ludwig Wittgenstein salah seorang tokoh filsafat analitik , ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya keterbatasannya bahasa ilmiah untuk mengungkapkan kompleksitas dunia manusia, Jumlah perbendaharaan kata dan kalimat yang mampu disusun oleh manusia tidak akan mencukupi untuk menunjukkan dan menerangkan realitas alam semesta yang sangat akbar. Begitu juga halnya dunia batin manusia banyak yang tersisa dan tak terwakili oleh kata-kata. Apa yang tidak terkatakan tidak berarti secara ontologis tidak ada.
Persoalan nama sejatinya merupakan pembahasan pokok pada semiotika atau semiologi, ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti tanda. Dalam kehidupan primitive pengidetifikasian tuhan melaui symbol atau lambang telah ada, nama tuhan sering diambilkan dari nama binatang atau tumbuhan totem mereka.
Setiap manusia merasa kenal Tuhan sehingga manusia menyebut Tuhan ketika ia berdoa , dalam bahaya, mendapat musibah ataupun mendapat kebahagiaan. Dalam tradisi keagamaan masyrakat banyak nama Tuhan, dan tempat yang disucikan tetapi pada dasarnya tidak ada yang memiliki kesucian yang absolut kecuali Tuhan. Dalam Islam dapat di contohkan bahwa ka’bah merupakan tempat suci umat Islam tetapi ka’bah sendiri tetap saja kesuciannya tidak intrinsik. Dalam artian hanya sebagai simbol persatuan & perekat umat dalam menunaikan kewajiban yang dibebankan seorang muslim terhadapnya. Seperti shalat lima waktu yang harus menghadap ka’bah, kemudian haji pada bulan tertentu dilaksanakan di Masjidil Haram. Jika seorang muslim mensucikan Allah sejajar dengan Ka’bah maka ia telah dianggap musyrik sebab keyakinannya tidak jauh berbeda dengan orang-orang jahiliyah sebelum datang Islam menyembah patung & berhala.
Dalam Islam nama “Allah” itu sendiri sering dinamakan “ism al-jalalain” atau “ism al-jam’, yaitu nama yang mencakup dan mewadahi semua nama-nama Tuhan yang lain. Dengan begitu, maka Allah mengacu pada Tuhan dalam ke-Absolut-annya, suatu dzat yang maha Akbar dan Gaib, yang hakikat kualitas-Nya tidak mungkin dideskripsikan oleh penalaran manusia.
Allah sebagai Dzat yang Absolut dan Maha Ghaib , seperti kata ibn Arabi. Sesungguhnya tidak memerlukan nama. Bila diberikan nama Dzat tersebut maka sesungguhnya nama apapun tidak akan tepat sebab jika yang absolut bisa didefinisikan maka ia tidak lagi absolut. Menurut Lao-tze bukankah definisi berarti juga sebuah pembatasan dan penciutan dari sebuah realitas. Namun Lao-tze ada kelemahan ketika kita berbicara Allah maka sebenarnya yang memberi nama bukan manusia itu sendiri melainkan Tuhan yang memberi nama bagi dirinya sendiri. Dapat tampak pada surat al-Ikhlas ayat satu, “Katakanlah, Hai Muhammad Dialah Allah yang satu.”
Kemudian, jika Tuhan begitu Absolut, tanpa nama, dan bebas dari yang dibayangkan manusia, lalu bagaimana seorang yang beriman mesti menyapa Tuhan? Dalam istilah Ibn Arabi sebagai tajalli (self manifestation) atau kehadiran Tuhan dalam makhluk-Nya. Semua makhluk ini sujud dan mensucikan Tuhan. Tetapi hanya manusia yang sujud serta pujiannya yang paling tinggi nilainya.
Tuhan Dalam sejarah
Dalam sejarah pemikiran manusia, seperti diungkapkan oleh Amstrong, telah jelas bahwa pertama umat manusia sudah mampu menangkap tentang adanya satu kekuatan yang mengatasi dan Maha Kuat, yang diyakininya telah menciptakan dan menguasai kehidupan umat manusia. Artinya bahwa pengetahuan tentang adanya Tuhan telah sadar dimiliki oleh setiap orang. Oleh karena itu manusia disebut homo religious. Kesadaran ini sangat esensial bagi masyarakat tradisional.
Dalam perkembangannya, kepercayaan kepada adanya tuhan yang maha kuasa ini digambarkan oleh manusia atau komunitas menurut daya jangkau akalnya masing-masing. Sifat yang diberikan kepada tuhan juga beragam dan jumlahnya pun menjadi berbeda antara satu masyarakat penganut agama dan masyarakat lainnya.
Dapat dimisalkan bahwa masyarakat sejak awal sudah memiliki satu pengalaman (bersifat psikis) mengenai adanya kekuatan misterius. Kekuatan itu yang diyakini oleh masyarakat ketika itu, yang menempati beberapa posisi dialam dunia ini, pohon besar, binatang, bebatuan. Ini disebut oleh masyarakat dikepulauan laut selatan sebagai mana, di masyarakat latin disebut dengan numina, yang terdapat di hutan. Dan di Arab disebut dengan Jin. Ketika itu mereka mempersonifikasikan kekuatan-kekuatan yang tidak bisa dilihat itu dan menjadikan sebagai tuhan-tuhan sesembahan, maka diasosiakanlah semua itu dengan angin, matahari, laut, binatang-binatang. Bahkan masyarakat mengekspresikan sesuatu yang aneh-aneh (85).
Rudolf Otto berbicara bahwa perasaan-perasaan itu disebut olehnya adalah “numinous” yaitu dasar setiap agama. Dalam bukunya The Idea of The Holy. Numinous itu sendiri adalah perasaan dan keyakinan seseorang terhadap adanya Yang Maha Kuasa yang lebih besar dan tinggi yang tidak bisa dijangkau dan dikuasai manusia. Perasaan inilah yang tampaknya mendahului segala mendahului minat dan hasrat untuk mendapatkan kejelasan tentang asal-usul dunia sebagai basis bagi etika perilaku (behavior). Kemudian numinous ini kemudian diyakini manusia dengan berbagai macam dan berbeda-beda. Kadang ia diinspirasikan dengan suatu kebuasan yang menyeramkan, ketenangan, kekuatan misterius. Akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak disertai dengan penjelasan literal terhadap gejala-gejala yang alamiah.

Tuhan di Masa Modern
Pada intinya Tuhan di masa Modern khususnya dalam pemikiran Barat telah digugat. Sebagaimana Marx yang menegaskan bahwa agama adalah candu masyarakat, yang karenanya agama harus ditinggalkan. Puncak penolakan terhadap agama disuarakan oleh Nietzhe dengan statemennya yang banyak dikenal orang “The God is dead”.
Kemunculan gagasan-gagasan semacam itu mungkin diakibatkan oleh adanya ketidakmampuan sistem keimanan yang berlaku di sana untuk mengakomodasikan perkembangan masyarakat modern dengan ilmu pengetahuannya. Kemajuan yang dapat dikatakan berhasil sangat percaya pada iptek, akhirnya berkembang lepas dari kontrol agama. Iptek yang landasan pokoknya bersifat sekuler bagi sebagian besar orang di Barat akhirnya menggantikan posisi agama. Dan dalam bahasa sosiologi agama, bahwa Agama telah tertinggal jauh atau tak dapat menyeimbangkan kecepatan iptek tersebut. Dari sini masyarakat Barat karena sangat mendewakan teknologi maka ia mengalami apa yang dinamakan dengan krisis epistemologis sebagaimana Nurcholish Madjid mengkutip pernyataan Baigent.
Dan pada akhirnya penulis berusaha dan mengupayakan kebangkitan kembali kesadaran awal yang dimilki manusia yang secara gradual akhirnya menghilang dari kesadaran sebagian orang, akibatnya cara pandang dan gaya hidup yang modern. Dialah satu kekuatan yang dimiliki oleh setiap tradisi keagamaan yang dibungkus dengan berbagai bentuk dan hadir dengan berbagai nama. Wallahu ‘alam bishawab. [A3]

Daftar Pustaka
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2005)
Agus, Bustanuddin, Agama Dalam Kehidupan Manusia; Pengantar Anthropologi Agama, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2006)
Kattsoff, Louis O, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004)
Komaruddin hidayat, memahami bahasa agama; sebuah kajian hermeneutic, (Jakarta, paramadina, 1996)
Muslih, Mohammad, Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2005)
Palmer E. Richard, Hermeneutika, Teori Baru Mengenal Interpretasi, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2005)
Tim Penyusun Departemen Agama & IAIN Jakarta, Fenomenologi Agama, (Jakarta: Proyek Pembinaan Prasarana Dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/ IAIN Di Jakarta Direktur Jendral Pembinaan Kpelembagaan Agama Islam, 1983/1984) Zarkarkasyi, Hamid Fahmy, “The Nature of God in Aristotle’s Natural Theology”, dalam Tsaqafah Jurnal Ilmu Pengetahuan & Kebudayaan Islam, Volume 4, Nomor 1, Zulq’dah 1426 (39-54)