kurang lebih selama medio 2010-2011, kami bersama kami disini: saya sendiri Arif Maulana Al-Lomboqy, Anugerah Fitriansya, Rifqy Suja' hilman, Aksa Krkic, Adib Susilo, Mohra Albutomi, Taufik Zamzami. Ijal Wangdoe, banyak kegiatan mulai dari yang paling gokil sampae serius, dari yang paling religus sampe ambisius, OSL (On Fire Super League), LPO (Liga Primer On Fire) disela-sela mengerjakan skripsi, Tahaddtus binni'mah n diskus waktu kajian sabtu/ahad/senin pagi di kamar dengan pemateri yang bergiliran, jalan-jalan bareng, renang, nontong baren, tukeran file, puasa bareng ples ta'jilnya....spindah kamar sampe 4 kali gan, saling tidurin???? sampe tiba bulan puasa sahur n buka bareng (tapi tetek kayaknya secara aklamisi koki termatap adalah.... dll semoga tidak gampang lupa kawan apa yang kita lakukan bersama,,,gudlak buat semua dimanapun berada. mohon maaf bila ana banyak salah n pasti banyak salah,,, terima kasih atas semuanya,,motornya,, firosnya,,, laptopnya,,, komputernya,,, sticknya,,, modemnya,,,kertasnya,,,tasji'nya,,,thoamnya... dsb
Senin, 31 Oktober 2011
Bismillah...Bismillah...Bismillah
Bismillah... kami ucapkan niat
Bismillah... kami goreskan tekad
Billah... kami gantungkan harapan Lalu kami langkahkan kaki fi sabilillah...
Untuk mengabdi dan bersaksi semua ini minallah...
Jangan takut dan jangan berkeluh bila kau ma'allah...
Karena kita telah berlari ilallah...(fafirru ilallah)
Berkarya dan berjasalah Lillah...(wa'malu fauqo maa 'amilu)
Lantas tawakkalkan usaha dan upaya 'alallah (fatawakkal 'alallah)
Ingatlah...
Diatas kita hanya Allah dan dibawah kita
Hanya tanah...
(Sebuah karya sederhana oleh Salim Jindan yang merupakan inti dan saripati dari pesan-pesan Kyai Hasan Abdullah Sahal ketika Mu'askar / daurah tadribiyah untuk Sarjana S1 Siman di Wisda pada medio 1-10 oktober 2011).
Semoga bermanfaat...
Al-Arif Billah;/////////////////////////////////////////////... Arif Maulana Al-Lomboqy2011.
Bismillah... kami goreskan tekad
Billah... kami gantungkan harapan Lalu kami langkahkan kaki fi sabilillah...
Untuk mengabdi dan bersaksi semua ini minallah...
Jangan takut dan jangan berkeluh bila kau ma'allah...
Karena kita telah berlari ilallah...(fafirru ilallah)
Berkarya dan berjasalah Lillah...(wa'malu fauqo maa 'amilu)
Lantas tawakkalkan usaha dan upaya 'alallah (fatawakkal 'alallah)
Ingatlah...
Diatas kita hanya Allah dan dibawah kita
Hanya tanah...
(Sebuah karya sederhana oleh Salim Jindan yang merupakan inti dan saripati dari pesan-pesan Kyai Hasan Abdullah Sahal ketika Mu'askar / daurah tadribiyah untuk Sarjana S1 Siman di Wisda pada medio 1-10 oktober 2011).
Semoga bermanfaat...
Al-Arif Billah;/////////////////////////////////////////////... Arif Maulana Al-Lomboqy2011.
Rabu, 19 Oktober 2011
Muka Lama Masih Mendominasi
Indonesia adalah negara khatulistiwa yang didalamnya tumbuh subur berbagai macam jenis tumbuhan yang menghiasi hutan didalamnya, kesuburan tersebut sama suburnya dengan munculnya partai-partai politik, baik itu yang berasaskan nasionalis, ataupun agamis nan religius. Benarkah banyaknya partai politik adalah bukti shahih dan standar sehingga suatu bangsa bisa dikatakan demokratis, demokratis yang dimaksud dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Amerika serikat saja sebagai negara yang disebut-sebut paling tinggi menjunjung demokrasi hanya memiliki 3 partai dalam sejarah pemerintahannya. Sedangkan Indonesia sendiri memiliki 44 partai padahal dari jumlah penduduk dari Amerika Serikat kita kalah, Belum lagi ada partai tambahan khusus yang diberlakukan di Aceh. Adanya 44 partai politik bukti kebebasan Indonesia yang tersalurkan atau malah sebaliknya, kebeblasan?.Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk ke-5 terpadat di dunia, atas konsekuensi tersebut Indonesia haruslah memiliki SDM yang juga berkualitas, agar bisa mengurus wilayah ini yang tak kalah luasnya, karena dengan SDM yang bermutu maka akan banyak aspek yang bisa digali potensinya guna kepentingan bangsa. Bicara soal demokrasi, pada tanggal 9 Juni nanti akan diadakan pesta demokrasi untuk memilih pemimpin yang akan menahkodai bangsa Indonesia ini setidaknya lima tahun kedepan (periode 2009-2014). Ketegangan terasa semenjak pemilihan umum kemarin dari kalangan istana negara sampai di pojokan kaki lima ribut mengira-ngira siapa yang akan menjadi orang yang paling berpengaruh di bumi pertiwi. Sejak itulah beberapa nama muncul ke permukaan untuk mengisi kursi kepresidenan masa bakti 2009-2014.
Pasangan presiden dan wakilnya periode saat Ini (SBY dan JK) memutuskan untuk bercerai dan mencari suasana baru dengan menggandeng cawapres baru yang dianggap layak. Siapapun kelak pemimpinnya, haruslah bisa mewakili suara umat muslim yang berjumlah lebih dari 90 % penduduk Indonesia. Dari hasil riset, SBY dan Hidayat Nur Wahid (HNW) adalah calon pasangan yang paling diharapkan. SBY sendiri telah mengantongi 19 nama calon wakil presiden, calon presiden dari partai Demokrat tersebut mengklaim kebanjiran usulan nama calon wakil presiden. Jumlah nama calon yang sudah ia kantongi mencapai 19 orang. Dan dari kesembilan belas nama tersebut sudah mengerucut menjadi 3 nama, yaitu, Hidayat Nurwahid, Hatta Rajasa, dan Boediono.
SBY mengatakan nama-nama calon itu orang-orang baik. Itu memudahkan dirinya untuk memilih dari yang baik menjadi yang paling tepat untuk menjadi pasangan dalam pemilu Juni nanti. Sebelumnya ia mengadakan sebuah “sayembara” untuk wakil presiden, ia telah menyebutkan lima kriteria yang pantas untuk menjadi cawapres yang sudah ditetapkan sebelumnya. Yaitu integritas, kapasitas dan kapabilitas, loyalitas, akseptabilitas dan dukungan bagi koalisi. Ia membiarkan proses penyaringan nama calon wakil itu mengalir seperti apa adanya. Namun pada akhirnya misteri ini terpecahkan dengan dipilihnya seorang Boediono. Tokoh Profesional non partai yang independen. Siapakah Boediono ? saya yakin tidak semua anak negeri ini tahu siapa Boediono, mereka akan lebih kenal artis ketimbang sosok yang satu ini. Sosoknya memang kurang familiar dikalangan masyarakat.
Gelombang protes terus mengalir deras, Aksi protes dan demo bukan saja datang dari kalangan Mahasiswa, gelombang yang sama juga datang dari hampir seluruh lapisan masyarakat, banyak factor yang membuat ketidakyakinan public, salah satunya adalah isu yang mengatakannya sebagai neo-liberalis, dan ada lagi yang beranggapan adanya unsur ras yang sangat kental kali ini, ras yang dimaksudkan adalah jawa sentries ala Blitar dan Pacitan maka pantaslah aroma jawa timur sangat kental. Belum lagi keinginan umat islam akan sosok pemimpin negeri yang bernuansa agamis, sebagaimana diketahui SBY sudah merupakan tokoh yang memiliki latar belakang nasionalis, maka diperlukan pendamping yang agak hijau dan agamis.
Neo-liberalis dituding sebagai antek investor asing yang akan berakibat pada runtuhnya perekonomian nasional malahan Indonesia akan menjadi ladang subur untuk tumbuh pesatnya investor asing. Di beberapa daerah terdapat spanduk yang kayaknya benar-benar mewakili sebagian besar aspirasi rakyat yang benar-benar kurang setuju dengan penunjukan Boediono sebagai cawapres, spanduk itu berbunyi: Bodiono NO, Budi Anduk YES. Karena kemiripan dalam pelafalan itulah sehingga tidak heran kalau ia diplesetkan dengan Budi Anduk
Sedikit pendiskripsian tentang Boediono, Pendamping SBY untuk melaju Pilpres 2009 yakni Dr. Boediono, Doktor Ekonomi dan juga Gubernur Bank Indonesia saat ini melambangkan sosok yang tidak terkesan ‘berlawanan arus dengan Amerika Cs”. Benar bahwa Boediono adalah seorang ekonom kapitalis yang handal. Jika saja SBY memilih tokoh Islam yang terkesan “berani”, maka ini menjadi suatu pilihan yang tidak menyenangkan bagi “hegemoni” Barat di Indonesia dan dunia. Dan bisa jadi, pemilihan Boediono merupakan titipan dari Paman Sam [karena kita tahu bahwa selama ini Uncle Sam selalu memiliki kepentingan dalam pemilu] kepada SBY untuk mengakomodasi kepentingan asing agar kekhawatiran Barat akan munculnya “Taliban” baru tidak terjadi. Jadi, Boediono adalah seorang kapitalis + bukan terlalu “hijau”.
SBY banyak belajar dari pemerintahan sebelumnya saat ia bersama JK seakan ada dua kekuatan yang menguasai negeri ini dan hal itu yang tidak diinginkannya lagi terjadi pada pemerintahan yang akan datang. Maka tak heran dalam pemilihan Presiden kali akan terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi orang nomor satu untuk edisi yang ketujuh.
Kalau sekarang para pemimpin berebut untuk menjadi pemimpin, kalau kita mengaca dari sejarah Islam terdahulu, masih ingatkah kita tentang riwayat seorang Umar bin Abdul Aziz, tatkala dulu ia diangkat sebagai khalifah, ia tak kuasa menahan tangis dan mengatakan إنا لله وإنا إليه راجعون , paling tidak itulah gambaran kurang lebih betapa amanat itu sangat berat karena ia hanyalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.
Sementara itu pasangan JK-Win tancap gas lebih dulu, sadar akan pesaingnya yang kuat mereka start lebih dulu guna mencari simpati dan menjaring suara sekaligus pengaruh yang banyak, mereka mendatangi banyak organanisasi masyarakat sampai berkunjung ke pasar, bukankah start lebih awal akan lebih berpeluang finish lebih dulu. Dengan slogan “lebih cepat lebih baik”. Lain lagi dengan si nyonya besar, Megawati menggaet Prabowo Soebianto, pentolan partai GERINDRA ini mengaku mendapat kehormatan untuk dapat mendampingi Megawati sebagai cawapres.
Lama-lama perebutan ini terasa sangat menjijikkan bagai anjing berebut tulang , memang pemimpin harus ada tapi kalau sampai jumlah kandidat untuk dipilih terasa berlebihan maka akan terkesan saling bernafsu memburu jabatan. Pantaskah seorang pamimpin perempuan memimpin bangsa yang didalamnya banyak lelaki yang lebih pantas darinya. Kita hanya mencoba menjalankan sunah rasul bukan membatasi gerakan wanita apalagi kalau sampai merenggut kebebasan kaum hawa.
Beberapa alasan yang membuat SBY memilih Boediono adalah:
• Presiden haruslah berkuasa dan wakil presiden lebih bersifat pembantu yang membantu kinerja presiden dan mewakilinya disaat yang dibutuhkan, harus ada kesamaan visi- dan misi.
• SBY ingin cawapresnya “patuh” dan tidak dominan secara politik. Boediono merupakan sosok profesional yang fokus pada pekerjaannya dan tidak “bergairah” dengan perpolitikan. Jangan sampai “ada 2 nakhoda dalam 1 kabinet”, dan Boediono yang pasti bukan orang yang akan/berambisi menjadi “nakhoda”, namun sebatas co-pilot.
• SBY membutuhkan cawapres yang ahli dalam bidang ekonomi. Selama ini kebijakan ekonomi kabinet Indonesia Bersatu lebih didominasi Wapres Jusuf Kalla bersama tim Ekonomi Kabinet.
• SBY tidak menginginkan wakilnya adalah sosok yang memiliki pengaruh ketokohan dan politik yang besar atau berpotensi membesar. SBY sudah merasakan bagaimana Wapres saat ini memiliki pengaruh politik dan ketokohan yang dalam beberapa sisi cukup mendominasi daripada SBY. Disisi lain, mungkin SBY tidak ingin mendengar pernyataan masyarakat bahwa Cawapresnya adalah “The Real President“
• SBY memilih Boediono merupakan langkah strategis SBY untuk menjaga kepentingan Partai Demokrat di masa mendatang yakni periode 2014.
Oleh karena itu, sangatlah wajar jika PKS, PAN, PPP (partai koalisi yang mendukung SBY) agak kecewa. Dan dengan kondisi carut-marut kekuasaan ini, maka sangatlah wajar jika Golput menjadi pemenang dengan Angka mencapai 50-66,7 juta penduduk pada Pileg 2009 silam. Belajar pada sejarah-sejarah yang telah mengajari kita bagaimana orde baru membangun pondasi bangsa ini dengan kekuatan ekonomi, yang pada akhirnya, kita menemukan potret masyarakat kita yang -bisa dibilang- sangat konsumtif. Gemar belanja. Gemar makan. Gemar makan hak orang.
Muka-muka lama tampil kembali dan masih mendominasi (diatas tulisan ini taruh poto pilihan>>>………..
Kalau pada pemilihan presiden dan wakil presiden kali tidak ditemukan calon dari partai yang benar-benar islam, ketika pemilihan presiden dan wakilnya pada periode selanjutnya harus ada karena bisa mengakomodasi aspirasi umat islam, ingat kita masih punya, Sutrisno Bahir, Tifatul Sembiring, Suryadharma Ali, Hidayat Nur Wahid, Dien Syamsuddin, Hazim Muzadi diharapkan dan diharapakan akan terus bermunculan tokoh-tokoh muda islami yang tahau kepentigan dan kebutuhan umat islam Indonesia di masa yang akan datang.
Siapapun yang akan menjadi pemimpim kelak harus diberikan kesempatan untuk berbuat yang terbaik bagi Indonesia, jangan terlalu skeptis akan kemampuan dan masa lalu yang kelam mereka. Yang terpilih harus didukung dan menjalankan amanat tersebut dengan baik, maka tak ada lagi kata-kata bernada negative bagi para kandidat, satu suara untuk Indonesia akan merubah masa depan bangsa kearah Negara yang lebih bermartabat.
Para calon wakil rakyat itu saling bersaing, mulai dari dana sampai tagline, pasangan JK-Win dengan (lebih cepat lebih baik), Mega-Prabowo (Mega Pro Rakyat), sedangkan di kelompok SBY Berboedi ada gerakan GPS (Gerakan Pro SBY) menarik untuk dinanti kelanjutannya. Wallahu ‘alam bishawab. [A3]
Pasangan presiden dan wakilnya periode saat Ini (SBY dan JK) memutuskan untuk bercerai dan mencari suasana baru dengan menggandeng cawapres baru yang dianggap layak. Siapapun kelak pemimpinnya, haruslah bisa mewakili suara umat muslim yang berjumlah lebih dari 90 % penduduk Indonesia. Dari hasil riset, SBY dan Hidayat Nur Wahid (HNW) adalah calon pasangan yang paling diharapkan. SBY sendiri telah mengantongi 19 nama calon wakil presiden, calon presiden dari partai Demokrat tersebut mengklaim kebanjiran usulan nama calon wakil presiden. Jumlah nama calon yang sudah ia kantongi mencapai 19 orang. Dan dari kesembilan belas nama tersebut sudah mengerucut menjadi 3 nama, yaitu, Hidayat Nurwahid, Hatta Rajasa, dan Boediono.
SBY mengatakan nama-nama calon itu orang-orang baik. Itu memudahkan dirinya untuk memilih dari yang baik menjadi yang paling tepat untuk menjadi pasangan dalam pemilu Juni nanti. Sebelumnya ia mengadakan sebuah “sayembara” untuk wakil presiden, ia telah menyebutkan lima kriteria yang pantas untuk menjadi cawapres yang sudah ditetapkan sebelumnya. Yaitu integritas, kapasitas dan kapabilitas, loyalitas, akseptabilitas dan dukungan bagi koalisi. Ia membiarkan proses penyaringan nama calon wakil itu mengalir seperti apa adanya. Namun pada akhirnya misteri ini terpecahkan dengan dipilihnya seorang Boediono. Tokoh Profesional non partai yang independen. Siapakah Boediono ? saya yakin tidak semua anak negeri ini tahu siapa Boediono, mereka akan lebih kenal artis ketimbang sosok yang satu ini. Sosoknya memang kurang familiar dikalangan masyarakat.
Gelombang protes terus mengalir deras, Aksi protes dan demo bukan saja datang dari kalangan Mahasiswa, gelombang yang sama juga datang dari hampir seluruh lapisan masyarakat, banyak factor yang membuat ketidakyakinan public, salah satunya adalah isu yang mengatakannya sebagai neo-liberalis, dan ada lagi yang beranggapan adanya unsur ras yang sangat kental kali ini, ras yang dimaksudkan adalah jawa sentries ala Blitar dan Pacitan maka pantaslah aroma jawa timur sangat kental. Belum lagi keinginan umat islam akan sosok pemimpin negeri yang bernuansa agamis, sebagaimana diketahui SBY sudah merupakan tokoh yang memiliki latar belakang nasionalis, maka diperlukan pendamping yang agak hijau dan agamis.
Neo-liberalis dituding sebagai antek investor asing yang akan berakibat pada runtuhnya perekonomian nasional malahan Indonesia akan menjadi ladang subur untuk tumbuh pesatnya investor asing. Di beberapa daerah terdapat spanduk yang kayaknya benar-benar mewakili sebagian besar aspirasi rakyat yang benar-benar kurang setuju dengan penunjukan Boediono sebagai cawapres, spanduk itu berbunyi: Bodiono NO, Budi Anduk YES. Karena kemiripan dalam pelafalan itulah sehingga tidak heran kalau ia diplesetkan dengan Budi Anduk
Sedikit pendiskripsian tentang Boediono, Pendamping SBY untuk melaju Pilpres 2009 yakni Dr. Boediono, Doktor Ekonomi dan juga Gubernur Bank Indonesia saat ini melambangkan sosok yang tidak terkesan ‘berlawanan arus dengan Amerika Cs”. Benar bahwa Boediono adalah seorang ekonom kapitalis yang handal. Jika saja SBY memilih tokoh Islam yang terkesan “berani”, maka ini menjadi suatu pilihan yang tidak menyenangkan bagi “hegemoni” Barat di Indonesia dan dunia. Dan bisa jadi, pemilihan Boediono merupakan titipan dari Paman Sam [karena kita tahu bahwa selama ini Uncle Sam selalu memiliki kepentingan dalam pemilu] kepada SBY untuk mengakomodasi kepentingan asing agar kekhawatiran Barat akan munculnya “Taliban” baru tidak terjadi. Jadi, Boediono adalah seorang kapitalis + bukan terlalu “hijau”.
SBY banyak belajar dari pemerintahan sebelumnya saat ia bersama JK seakan ada dua kekuatan yang menguasai negeri ini dan hal itu yang tidak diinginkannya lagi terjadi pada pemerintahan yang akan datang. Maka tak heran dalam pemilihan Presiden kali akan terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi orang nomor satu untuk edisi yang ketujuh.
Kalau sekarang para pemimpin berebut untuk menjadi pemimpin, kalau kita mengaca dari sejarah Islam terdahulu, masih ingatkah kita tentang riwayat seorang Umar bin Abdul Aziz, tatkala dulu ia diangkat sebagai khalifah, ia tak kuasa menahan tangis dan mengatakan إنا لله وإنا إليه راجعون , paling tidak itulah gambaran kurang lebih betapa amanat itu sangat berat karena ia hanyalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.
Sementara itu pasangan JK-Win tancap gas lebih dulu, sadar akan pesaingnya yang kuat mereka start lebih dulu guna mencari simpati dan menjaring suara sekaligus pengaruh yang banyak, mereka mendatangi banyak organanisasi masyarakat sampai berkunjung ke pasar, bukankah start lebih awal akan lebih berpeluang finish lebih dulu. Dengan slogan “lebih cepat lebih baik”. Lain lagi dengan si nyonya besar, Megawati menggaet Prabowo Soebianto, pentolan partai GERINDRA ini mengaku mendapat kehormatan untuk dapat mendampingi Megawati sebagai cawapres.
Lama-lama perebutan ini terasa sangat menjijikkan bagai anjing berebut tulang , memang pemimpin harus ada tapi kalau sampai jumlah kandidat untuk dipilih terasa berlebihan maka akan terkesan saling bernafsu memburu jabatan. Pantaskah seorang pamimpin perempuan memimpin bangsa yang didalamnya banyak lelaki yang lebih pantas darinya. Kita hanya mencoba menjalankan sunah rasul bukan membatasi gerakan wanita apalagi kalau sampai merenggut kebebasan kaum hawa.
Beberapa alasan yang membuat SBY memilih Boediono adalah:
• Presiden haruslah berkuasa dan wakil presiden lebih bersifat pembantu yang membantu kinerja presiden dan mewakilinya disaat yang dibutuhkan, harus ada kesamaan visi- dan misi.
• SBY ingin cawapresnya “patuh” dan tidak dominan secara politik. Boediono merupakan sosok profesional yang fokus pada pekerjaannya dan tidak “bergairah” dengan perpolitikan. Jangan sampai “ada 2 nakhoda dalam 1 kabinet”, dan Boediono yang pasti bukan orang yang akan/berambisi menjadi “nakhoda”, namun sebatas co-pilot.
• SBY membutuhkan cawapres yang ahli dalam bidang ekonomi. Selama ini kebijakan ekonomi kabinet Indonesia Bersatu lebih didominasi Wapres Jusuf Kalla bersama tim Ekonomi Kabinet.
• SBY tidak menginginkan wakilnya adalah sosok yang memiliki pengaruh ketokohan dan politik yang besar atau berpotensi membesar. SBY sudah merasakan bagaimana Wapres saat ini memiliki pengaruh politik dan ketokohan yang dalam beberapa sisi cukup mendominasi daripada SBY. Disisi lain, mungkin SBY tidak ingin mendengar pernyataan masyarakat bahwa Cawapresnya adalah “The Real President“
• SBY memilih Boediono merupakan langkah strategis SBY untuk menjaga kepentingan Partai Demokrat di masa mendatang yakni periode 2014.
Oleh karena itu, sangatlah wajar jika PKS, PAN, PPP (partai koalisi yang mendukung SBY) agak kecewa. Dan dengan kondisi carut-marut kekuasaan ini, maka sangatlah wajar jika Golput menjadi pemenang dengan Angka mencapai 50-66,7 juta penduduk pada Pileg 2009 silam. Belajar pada sejarah-sejarah yang telah mengajari kita bagaimana orde baru membangun pondasi bangsa ini dengan kekuatan ekonomi, yang pada akhirnya, kita menemukan potret masyarakat kita yang -bisa dibilang- sangat konsumtif. Gemar belanja. Gemar makan. Gemar makan hak orang.
Muka-muka lama tampil kembali dan masih mendominasi (diatas tulisan ini taruh poto pilihan>>>………..
Kalau pada pemilihan presiden dan wakil presiden kali tidak ditemukan calon dari partai yang benar-benar islam, ketika pemilihan presiden dan wakilnya pada periode selanjutnya harus ada karena bisa mengakomodasi aspirasi umat islam, ingat kita masih punya, Sutrisno Bahir, Tifatul Sembiring, Suryadharma Ali, Hidayat Nur Wahid, Dien Syamsuddin, Hazim Muzadi diharapkan dan diharapakan akan terus bermunculan tokoh-tokoh muda islami yang tahau kepentigan dan kebutuhan umat islam Indonesia di masa yang akan datang.
Siapapun yang akan menjadi pemimpim kelak harus diberikan kesempatan untuk berbuat yang terbaik bagi Indonesia, jangan terlalu skeptis akan kemampuan dan masa lalu yang kelam mereka. Yang terpilih harus didukung dan menjalankan amanat tersebut dengan baik, maka tak ada lagi kata-kata bernada negative bagi para kandidat, satu suara untuk Indonesia akan merubah masa depan bangsa kearah Negara yang lebih bermartabat.
Para calon wakil rakyat itu saling bersaing, mulai dari dana sampai tagline, pasangan JK-Win dengan (lebih cepat lebih baik), Mega-Prabowo (Mega Pro Rakyat), sedangkan di kelompok SBY Berboedi ada gerakan GPS (Gerakan Pro SBY) menarik untuk dinanti kelanjutannya. Wallahu ‘alam bishawab. [A3]
Potret perbankan Indonesa sebagai Negara Muslim
Judul :Profit Sharing vs Interest (sebuah kajian Perbandingan)
Penulis : Muhammad Salim
Penerbit : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS)
Cetakan pertama :Agustus 2007
Tebal : xvi+44 hlm, 12 x 18 cm
Bank merupakan lembaga keuangan yang fungsinya adalah sebagai penyalur antara unit ekonomi yang memiliki kelebihan dana (surplus unit) dengan unit lain yang kekurangan dana (deficit unit) sehingga memberikan manfaat kepada kedua belah pihak dalam sektor riil ekonomi. Sistem perbankan sendiri didasarkan pada prinsip bagi hasil dan bunga. Sistem bagi hasil (al-mudharabah/profit sharing system) adalah system yang dipraktekkan dalam perbankan syari’ah, sedangkan system bunga dilaksanakan oleh hampir seluruh bank konvcensional di Indonesia.
Masalah bunga bank merupakan hal yang menimbulkan kontroversi, apalagi dengan berbedanya pendapat dari para tokoh berpengaruh, seperti Dr. Yusuf Qardhawi yang mengharamkannya, sedangkan Syeikh al-Azhar Muhammad Tantowi yang mengahalalkannya. Keberadaan buku kecil ini dinilai sangat pas disaat banyak orang yang mempermasalahkannya, dengan kata lain, buku ini datang tepat pada waktunya plus membawa masalah yang memang sedang mencari titik dengan satu kata sepakat. Sebuah bacaan penting, mengingat banyaknya nasabah yang masih memanfaatkan bank konvensional sebagai tempat mereka melakukan transaksi simpan pinjam yang sebenarnya telah diketahui bersama, dalam opereasional dan sisterm perbankan tersebut tidak sesuai dengan dogma, doktrin, dan nila-nilai budaya masyarakat beragama (Islam), misalnya bank konvensional dengan system bunganya, hal ini tentu mambawa masalah baru bagi umat Muslim karena menganggap bunga adalah riba.
Menariknya lagi dalam buku disajikan keanehan baru yang dilancarkan bank-bank konvensional guna menarik simpati ditengah persaingan untuk mendapatkan pengaruh dan kepercayaan dari umat Muslim khususnya, karena Indonesia merupakan negara dengan umat Muslim terbanyak di dunia. Apalagi setelah berdirinya IDB (Islamic Dana Bank) yang mana bank-bank konvensional tersebut seakan-akan mengikuti trik bank-bank Islam yang menerapkan system bagi hasil tapi dengan istilah yang berbeda yakni Dual Banking, artinya bank konvensional mengikuti dua system, pertama menerapkan system bunga dan kedua sistem bagi hasil/mudharabah.
Namun demikian buku kecil ini belum mencangkup seluruh masalah seputar bunga bank, apalagi masalah ini akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya kasus-kaus baru. Tapi setidaknya bisa memberikan pemahaman lebih kepada pembaca sehingga mampu menyambung harapan penulis kepada khalayak ramai yakni agar kita lebih hati-hati dalam menentukan pilihan dan bisa dijadikan rujukan tambahan dalam menyelesaikan masalah. Buku ini baik dibaca oleh seluruh kalangan, mulai dari pengamat / pakar sampai ketingkat umum, yang sengaja mempelajari dan ingin tahu lebih banyak mengenai perbankan islami. Selamat membaca. [A3]
Penulis : Muhammad Salim
Penerbit : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS)
Cetakan pertama :Agustus 2007
Tebal : xvi+44 hlm, 12 x 18 cm
Bank merupakan lembaga keuangan yang fungsinya adalah sebagai penyalur antara unit ekonomi yang memiliki kelebihan dana (surplus unit) dengan unit lain yang kekurangan dana (deficit unit) sehingga memberikan manfaat kepada kedua belah pihak dalam sektor riil ekonomi. Sistem perbankan sendiri didasarkan pada prinsip bagi hasil dan bunga. Sistem bagi hasil (al-mudharabah/profit sharing system) adalah system yang dipraktekkan dalam perbankan syari’ah, sedangkan system bunga dilaksanakan oleh hampir seluruh bank konvcensional di Indonesia.
Masalah bunga bank merupakan hal yang menimbulkan kontroversi, apalagi dengan berbedanya pendapat dari para tokoh berpengaruh, seperti Dr. Yusuf Qardhawi yang mengharamkannya, sedangkan Syeikh al-Azhar Muhammad Tantowi yang mengahalalkannya. Keberadaan buku kecil ini dinilai sangat pas disaat banyak orang yang mempermasalahkannya, dengan kata lain, buku ini datang tepat pada waktunya plus membawa masalah yang memang sedang mencari titik dengan satu kata sepakat. Sebuah bacaan penting, mengingat banyaknya nasabah yang masih memanfaatkan bank konvensional sebagai tempat mereka melakukan transaksi simpan pinjam yang sebenarnya telah diketahui bersama, dalam opereasional dan sisterm perbankan tersebut tidak sesuai dengan dogma, doktrin, dan nila-nilai budaya masyarakat beragama (Islam), misalnya bank konvensional dengan system bunganya, hal ini tentu mambawa masalah baru bagi umat Muslim karena menganggap bunga adalah riba.
Menariknya lagi dalam buku disajikan keanehan baru yang dilancarkan bank-bank konvensional guna menarik simpati ditengah persaingan untuk mendapatkan pengaruh dan kepercayaan dari umat Muslim khususnya, karena Indonesia merupakan negara dengan umat Muslim terbanyak di dunia. Apalagi setelah berdirinya IDB (Islamic Dana Bank) yang mana bank-bank konvensional tersebut seakan-akan mengikuti trik bank-bank Islam yang menerapkan system bagi hasil tapi dengan istilah yang berbeda yakni Dual Banking, artinya bank konvensional mengikuti dua system, pertama menerapkan system bunga dan kedua sistem bagi hasil/mudharabah.
Namun demikian buku kecil ini belum mencangkup seluruh masalah seputar bunga bank, apalagi masalah ini akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya kasus-kaus baru. Tapi setidaknya bisa memberikan pemahaman lebih kepada pembaca sehingga mampu menyambung harapan penulis kepada khalayak ramai yakni agar kita lebih hati-hati dalam menentukan pilihan dan bisa dijadikan rujukan tambahan dalam menyelesaikan masalah. Buku ini baik dibaca oleh seluruh kalangan, mulai dari pengamat / pakar sampai ketingkat umum, yang sengaja mempelajari dan ingin tahu lebih banyak mengenai perbankan islami. Selamat membaca. [A3]
Seri kajian Filsafat Islam
INI DULU BARU ITU
( At first Islamic Philosophy and the next Western Philosophy)
Dalam hal ini yang saya maksudkan adalah mengenal filsafat islam sebagai bagian dari kerangka berfikir, dan agar jangan terlalu terperosok ke dalam jurang filsafat barat yang terkadang membahayakan. Dengan mengenal segala macam filsafat yang telah, sedang, dan akan terus berkembang dalam Islam maka setidaknya kita telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bukankah mengenal dan mengetahui tokoh sekaliber al-Faroby lebih baik ketimbang Socrates, ataupun Rene Descartes?
Keadaan dunia yang seperti saat ini pasti ada yang mewarnainya. Kekuatan yang mewarnai itu yang pertama ialah agama, dan yang kedua ialah filsafat. Orang yang mewarnainya juga ada dua, pertama nabi dan ulama, dan yang kedua filosof. Satu kenyataan yang pasti adalah bahwa seorang ilmuan beserta tekhnologi tidak ikut berperan dalam mewarnai dunia. Karena pakar sains dan tekhnologi menggunakan sains dan tekhnologi tersebut untuk mewarnai dunia berdasarkan pandangan hidupnya, jadi jelaslah bahwa pandangan hidup itu hanya ada dua: Agama dan filsafat. Tulisan ini hanya sekedar pengantar tentang filsafat Islam yang gaungnya tidak sekeras gaung filsafat barat di kalangan banyak pihak.
Semuanya tak lepas dari masalah waktu dan dominasi. Akal mengalami kekalahan peran di barat sekitar tahun 200-an masehi hingga 1600-an masehi. Setelah sebelumnya filsafat Yunani yang menguasai sebagian besar dunia. Pada saat itu agamalah yang mendominasi dunia, dan ini membuktikan adanya ketidakseimbangan antara agama dan filsafat (Hati dan akal).
Sedangkan dalam islam sendiri filsafat muncul sejak 80-an samapai 1200-an masehi, pada saat tersebut filsafat berkembang pesat dengan tidak mengganggu perkembangan agama islam, jadi keduanya berjalan berbarengan dan seirama. Sejarah telah mempertontonkan adanya manusia yang berani mati untuk dan karena agama yang dianutnya. Agama lebih menggunakan pendekatan hati ketimbang pendekatan akal yang banyak digunakan dalam filsafat.
Yang jelas dalam filsafat Islam tidak pernah terjadi agama bersitegang dengan akal, justru akal memantapakan iman dalam hati pemiliknya untuk lebih dekat dengan yang Maha Satu. Kebijaksanaan atau pengetahuan sejati itu tidak mungkin didapat oleh satu orang saja. Sejarah mencatat bahwa setelah munclnya seorang filsuf, muncul kemudian filsuf lainnya yang mengoreksi ataupun menguatkan penemuan yang pertama serta mengajukan gagasan-gagasan yang memperbaharui gagasan pertama, demikianlah seterusnya sepanjang kehidupan manusia berlangsung. Hal ini dimungkinkan karena keingintahuan manusia yang besar sebagai refleksi dari potensi kemanusiaan yang dimilikinya yang dianugerahkan oleh Allah Swt, yaitu akal, intuisi, alat inderawi dan kekuatan fisik.
Diantara para filosof Muslim yang beredar dalam kurung waktu tersebut (abad 1 – 12 Masehi) adalah:
1. Al-Kindi ( 769-873 Masehi)
2. Al-Razi (863-925 Masehi)
3. Al-Faraby (870-950 Masehi)
4. Ibnu Sina (980-1037 Masehi)
5. Al-Ghozali (1059-1111 Masehi)
6. Ibnu Rusyd (1126-1198 Masehi)
Selain mereka ada juga Ibnu Tufail, Ibnu Bajjah dan sederet tokoh Mistisme Islam ( yang lebih dikenal sebagai tokoh sufi: ahli tashawwuf) diantaranya:
1. Rabi’ah al- adawiyah (713-801 Masehi)
2. Zunun al-Mishry (860 Masehi)
3. Abu Yazid al-Busthami (874 Masehi)
4. Hussain Ibnu Manshur al-Hallaj (858-922 Masehi)
5. Muhyiddin Ibnu Araby (1165-1240 Masehi) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Philosphia dalam bahasa arabnya adalah muhibbu al-hikmah. Kata Sophia dipindahkan oleh orang arab kedalam bahasa Arab dengan kata hikmah. Sebagaimana dalam surat al-baqarah, 2:269:
Artinya:
Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).(al-baqarah, 2:269).
Secara sederhana dapat dikatakan filsafat adalah hasil kerja berfikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal dan universal. Sedangkan Filsafat Islam itu sendiri adalah hasil pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan dan alam yang disinari oleh ajaran Islam. Dalam Perkembangan akhir-akhir ini, cakupan Filsafat Islam itu diperluas kepada segala aspek ilmu yang terdapat dalam khazanah pemikiran keilsaman, yang meliputi Ilmu kalam, Ushul Fiqh, dan Tasawwuf.
Tentang penamaan disiplin ilmu ini, terdapat dua versi pendapat, yaitu Filsafat Islam dan Filsafat Arab. Tetapi kalau ditelaah lebih jauh lagi, penggunaan istilah Filsafat Arab kuranglah tepat karena kebanyakan Filsuf yang membangun ilmu ini bukanlah orang Arab, melainkan orang Persia, Turki, Afganistan, Spanyol dan lain-lain. Walaupun kebanyakan karya mereaka ditulis dalam bahasa Arab, tetapi orang Arab belum mengenal ilmu ini sebelum ekspansi Islam. Jadi, amatlah tepat kalu kita menamakannya sebagi Filsafat Islam.
Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam
Sebagaimana dimaklumi, kalam yang dimaksudkan adalah firman Allah. Pada abad permulaan hijrah, firman Allah dipersoalkan, apakah sesuatu yang baru ataupun qadim?. Hal tersebut berawal dari perseturuan dua kubu. Mu’tazilah adalah kelompok yang mempercayai bahwa firman Allah t ersebut adalah sesuatu yang baru, sedangkan yang beranggapan bahwa firman Allah itu qadim adalah Ibnu Hambal dan Asy’ariah, dan kemudian meluas ke persoalan ketuhanan lainnnya, mempergunakan dalil-dalil akal “melebihi dalil naqli yang tampak pada perbincangan mutakallimin.
Dalam perkembangan ilmu-ilmu keislaman, antara Filsafat Islam dan Ilmu Kalam dapat dibedakan. Filsafat Islam mengandalkan akal dalam mengkaji objeknya, Allah, alam dan manusia, tanpa terikat dengan pendapat yang ada. Nash-nash agama hanya menajdi bukti untuk membenarkan temuana akal. Sebaliknya Ilmu Kalam mengambil dalil akidah sebagaimana tertera dalam wahyu, yang mutlak kebenarannya untuk mengkaji objeknya, Allah dan sifat-sefatnya, serta hubungan Allah denga alam dan manusia dan menjadikan filsafat sebagai alat yang membenarkan nash agama. Contohnya Filsafat Islam mengawali pembuktiannnya dengan argumentasi akal, barulah pembenarannya diberikan wahyu, sementara ilmu Kalam mencari wahyu yang bertbicara tentang keberadaan Tuhan, baru kemudian didukung oleh argumentasi akal. Walaupun objek dan metode kedua ilmu ini berbeda, tapi keduanya saling melengkapi dalam memahami Islam dan pembentukan aqidah Msulim.
Hubungan Filsafat Islam dengan Tasawwuf
Tasawwuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Muslim berada sedekat mungkin dengan Allah Swt, dapat dibedakan menjadi Tasawwuf Amali / Akhlaqy, dan Tasawwuf Falsafi. Dari pengelompokan ini tergambar adanya unsur-unsur kefilsafatan dalam menjelaskan maqomat (a-lfana’, al-baga’, Ittihad, hulul, wahadatu al-wujud). Adapun perbedaan antara Filsafat Islam dan tasawwuf dapat dijelaskan sebagai berikut: Objek filsafat membahas segala sesuatau yang ada, baik fisika maupun metafisika yang dikaji dengan memperguanakan argumentasi akal dan logika. Objek Tasawwuf pada dasarnya mengenal Allah, baik dengan jalan ibadah maupun melalui ilham dan intuisi. Karena itu Sufi disebut juga al-Ubbad ( ahli ibadah) dan al-Zuhhad (ahli zuhud).
Hubungan Filsafat Islam dengan Ushul Fikih
Dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan hukum diperlukan Ijtihad, yaitu usaha dengan mempergunakan akal dan prinsip kelogisan untuk mengeluarkan ketentuan-ketentuan hukum dari sumbernya. Mengingat pentinganya ijtihad, para pakar hukum islam mengangggapnya (Ijtihad) sebagai sumber hukum ketiga setelah al-qur’an dan Hadis. Termasuk dalam ijtihad adalah qiyas yakni menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada naskh hukumnya dengan hukum sesuatu yang lain yang ada naskh hukumnya atas dasar persamaan illat (sebab). Selain Qiyas ada juga al-istihsan dan al-Mashalih al-Mursalah.
Dari tiga contoh ilmu keislaman yang diutarakan, ketiganya memiliki hubungan dengan fislasat Islam, tergambar adanya peraturan yang saling mengisi. Hal ini terbukti dalam sejarah para Filsuf yang memadukan filsafat, ilmu dan agama menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.
Hubungan Filsafat Islam Dengan Filsafat Yunani
Pemikiran Yunani dapat dibagi kepada dua zaman:
1. Zaman Yunani atau Helenis
Zaman ini ditandai dengan munculnya pamikir-pemikir Yunani dari abad VI SM sampai akhir abad IV SM. Diantara pemikir-pemikir atau aliran-aliran itu adalah filsafat alam dari Milite yang cenderung Meterialistis, aliran atomistis yang didukung oleh Leukippos dan Demokritos, Kaum Elea yang bercorak mistis dan matematis, Kaum Sofist, Socrates, Plato, Aristoltes, dan aliran Peripetetik yantg menekankan pada aspek epistimilogi, etika, aksiologi dan kemanusiaan.
2. Zaman Helenistis-Romawi, yakni setelah Aristotles (322 SM). Dimulai dengan Pemerintahan Alexander the Great ( 356-326 SM).
Pada masa ini Filsafat Yunanai tidak hanya terjadi di Yunanai saja, tapi telah meluas sebagai warisan Yunani yang dikembangkan oleh orang-orang Romawi, dan oleh pemikir Mesir, Syria dan sekitarnya. Zaman ini diawali pada abad IV SM sampai pertengahan abad VI M di Romawi barat yang berpusat di Roma, dan di Byzantium (Romawi Timur) sampai pertengahan abad VII M yang berpusaat di Alexandria (Iskandariah). Dengan kata lain samapi munculnya era filsafat Islam yang ditandai dengan masa penerjemahan lewat lembaga Bait al-hikmah di Baghdad.
Helenistis-Romawi dapat dibedakan kepada tiga masa perkembangan. Pertama, dari akhir abad IV SM hingga pertengahan abad I SM, pada masa ini dikenal terdapat aliran Stoa, Epikurus, dan Skeptisisme. Kedua dari pertenganhan abad I SM hingga pertengahan abad III M. Di zaman ini terdapat aliran yang diantaranya aliran Stoa-akhir, Neo-Pythagoreanisme, Epikurus-akhir dan Hlenisme Yunani, zaman ini bersifat ekliktik. Ketiga dari pertengahan abad III M hingga pertengahan abad VI M di Romawi Barat, hingga abad VII M di Byzantium, di zaman ini ditandai dengan adanya dominasi pemikiran Neo-Platonisme yang lahir dan berkembang di Iskandaria.
Filsafat Yunani sendiri terbelah ke dalam dua aliran besar yang mana kedua aliran ini sering dan saling dipertentangkan satu sama lainnya, aliran yang dimaksud mengacu kepada pemikiran Plato dan Aristotles. Plato yang dalam kehidupannya bergaya mistis, menekankan olah pikir daripada apa yang dapat dialami atau ditangkap oleh penca indra. Dengan kata lain Plato lebih berpegang pada akal dan idea, serta mengabaikan empirisme. Corak berfikir Plato ini menjadi benih rasionalisme dalam menerangkan sesuatu, dan menjadi idealisme bila berkaitan dengan nilai. Lain halnya dengan Aristotles yang lebih menyenangi kehidupan meteri, dan lebih menekankan kepada cara berfikikr realis, karena itu ia sangat menjunjung tinggi empirisme, boleh jadi kecendrungannya tersebut dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang biologi dan kedokteran.
Pada awalnya negara-negara seperti Mesir dan Suriah yang kental dengan aroma filsafat Yunani, namun pada era Khulafa’ al-Rasyidun dan Daulah Umayah, Filsafat Yunani tersebut belum dikembangkan karena pada masa ini perhatian umat Islam terfokus pada penaklukan wilayah dan lebih menonjolkan kebudayaan Arab. Barulah pada zaman Daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad mulai diperhatikan secara serius Filsafat ini, terutama pada masa Al-Ma’muin (813-833 M) Putera Harun al-Rasyid, yang dikenal dengan zaman penerjemahan.
Sebenarnya Penerjemahan buku-buku kedalam bahasa Arab sudah dimulai semenjak permulaan Daulah Umaiyah, kegiatan ini disponsori oleh Khalifah Khalid ibn Yazid, tetapi buku-buku ilmiah yang diterjemahkan pada waktu itu masih berkaitan dengan keperluan praktis, seperti kimia dan kedokteran. Kegiatan penerjemahan mencapai zaman keemasannya pada masa Khalifah Al-Ma’mun, yang juga mendirikan bait al-hikmah.
Disaping Kota Baghdad, juga ada kota-kota lain yan dijadikan sebagai pusat pengembangan sanis dan filsafat, yaitu kota Marwa (Persia tengah), Jundisyapur, dan Harram. Penerjemahan ini bukan hanya buku-buku pengetahuan yang berbahasa Yunani tetapi juga bahasa Persia dan Suryani yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Dengan adanya Penerjemahan ini umat Islam telah mampu dalam waktu yang relatif singkat menguasai warisan intelektual dari tiga jenis kebudayaan yang sangat maju pada waktu itu, yakni Yunani, persia, dan India. Warisan intelektual tersebut dikembangkan oleh pemikir-pemikir Islam menjadi suatu kebudayaan yang lebih maju. Namun sangat disayangkan kejayaan Islam dan segala macam ilmuhnya hanya dapat berlangsung sampai abad XIII M, kemudian orang-orang barat memindahkan pusat ilmu pengetahuan tersebut Eropa. Dengan demikian, umat Islam saat ini harus bekerja ekstra keras kembali untuk meraih permata kita yang hilang, seolah-olah saat ini terjadi “helenisme gelombang ke II”. Jadi bersiaplah untuk merebut apa yang seharusnya kita miliki.
“ Wisdom is the lost property of the believer, take it sherever you fin it” [A3]
( At first Islamic Philosophy and the next Western Philosophy)
Dalam hal ini yang saya maksudkan adalah mengenal filsafat islam sebagai bagian dari kerangka berfikir, dan agar jangan terlalu terperosok ke dalam jurang filsafat barat yang terkadang membahayakan. Dengan mengenal segala macam filsafat yang telah, sedang, dan akan terus berkembang dalam Islam maka setidaknya kita telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bukankah mengenal dan mengetahui tokoh sekaliber al-Faroby lebih baik ketimbang Socrates, ataupun Rene Descartes?
Keadaan dunia yang seperti saat ini pasti ada yang mewarnainya. Kekuatan yang mewarnai itu yang pertama ialah agama, dan yang kedua ialah filsafat. Orang yang mewarnainya juga ada dua, pertama nabi dan ulama, dan yang kedua filosof. Satu kenyataan yang pasti adalah bahwa seorang ilmuan beserta tekhnologi tidak ikut berperan dalam mewarnai dunia. Karena pakar sains dan tekhnologi menggunakan sains dan tekhnologi tersebut untuk mewarnai dunia berdasarkan pandangan hidupnya, jadi jelaslah bahwa pandangan hidup itu hanya ada dua: Agama dan filsafat. Tulisan ini hanya sekedar pengantar tentang filsafat Islam yang gaungnya tidak sekeras gaung filsafat barat di kalangan banyak pihak.
Semuanya tak lepas dari masalah waktu dan dominasi. Akal mengalami kekalahan peran di barat sekitar tahun 200-an masehi hingga 1600-an masehi. Setelah sebelumnya filsafat Yunani yang menguasai sebagian besar dunia. Pada saat itu agamalah yang mendominasi dunia, dan ini membuktikan adanya ketidakseimbangan antara agama dan filsafat (Hati dan akal).
Sedangkan dalam islam sendiri filsafat muncul sejak 80-an samapai 1200-an masehi, pada saat tersebut filsafat berkembang pesat dengan tidak mengganggu perkembangan agama islam, jadi keduanya berjalan berbarengan dan seirama. Sejarah telah mempertontonkan adanya manusia yang berani mati untuk dan karena agama yang dianutnya. Agama lebih menggunakan pendekatan hati ketimbang pendekatan akal yang banyak digunakan dalam filsafat.
Yang jelas dalam filsafat Islam tidak pernah terjadi agama bersitegang dengan akal, justru akal memantapakan iman dalam hati pemiliknya untuk lebih dekat dengan yang Maha Satu. Kebijaksanaan atau pengetahuan sejati itu tidak mungkin didapat oleh satu orang saja. Sejarah mencatat bahwa setelah munclnya seorang filsuf, muncul kemudian filsuf lainnya yang mengoreksi ataupun menguatkan penemuan yang pertama serta mengajukan gagasan-gagasan yang memperbaharui gagasan pertama, demikianlah seterusnya sepanjang kehidupan manusia berlangsung. Hal ini dimungkinkan karena keingintahuan manusia yang besar sebagai refleksi dari potensi kemanusiaan yang dimilikinya yang dianugerahkan oleh Allah Swt, yaitu akal, intuisi, alat inderawi dan kekuatan fisik.
Diantara para filosof Muslim yang beredar dalam kurung waktu tersebut (abad 1 – 12 Masehi) adalah:
1. Al-Kindi ( 769-873 Masehi)
2. Al-Razi (863-925 Masehi)
3. Al-Faraby (870-950 Masehi)
4. Ibnu Sina (980-1037 Masehi)
5. Al-Ghozali (1059-1111 Masehi)
6. Ibnu Rusyd (1126-1198 Masehi)
Selain mereka ada juga Ibnu Tufail, Ibnu Bajjah dan sederet tokoh Mistisme Islam ( yang lebih dikenal sebagai tokoh sufi: ahli tashawwuf) diantaranya:
1. Rabi’ah al- adawiyah (713-801 Masehi)
2. Zunun al-Mishry (860 Masehi)
3. Abu Yazid al-Busthami (874 Masehi)
4. Hussain Ibnu Manshur al-Hallaj (858-922 Masehi)
5. Muhyiddin Ibnu Araby (1165-1240 Masehi) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Philosphia dalam bahasa arabnya adalah muhibbu al-hikmah. Kata Sophia dipindahkan oleh orang arab kedalam bahasa Arab dengan kata hikmah. Sebagaimana dalam surat al-baqarah, 2:269:
Artinya:
Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).(al-baqarah, 2:269).
Secara sederhana dapat dikatakan filsafat adalah hasil kerja berfikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal dan universal. Sedangkan Filsafat Islam itu sendiri adalah hasil pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan dan alam yang disinari oleh ajaran Islam. Dalam Perkembangan akhir-akhir ini, cakupan Filsafat Islam itu diperluas kepada segala aspek ilmu yang terdapat dalam khazanah pemikiran keilsaman, yang meliputi Ilmu kalam, Ushul Fiqh, dan Tasawwuf.
Tentang penamaan disiplin ilmu ini, terdapat dua versi pendapat, yaitu Filsafat Islam dan Filsafat Arab. Tetapi kalau ditelaah lebih jauh lagi, penggunaan istilah Filsafat Arab kuranglah tepat karena kebanyakan Filsuf yang membangun ilmu ini bukanlah orang Arab, melainkan orang Persia, Turki, Afganistan, Spanyol dan lain-lain. Walaupun kebanyakan karya mereaka ditulis dalam bahasa Arab, tetapi orang Arab belum mengenal ilmu ini sebelum ekspansi Islam. Jadi, amatlah tepat kalu kita menamakannya sebagi Filsafat Islam.
Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam
Sebagaimana dimaklumi, kalam yang dimaksudkan adalah firman Allah. Pada abad permulaan hijrah, firman Allah dipersoalkan, apakah sesuatu yang baru ataupun qadim?. Hal tersebut berawal dari perseturuan dua kubu. Mu’tazilah adalah kelompok yang mempercayai bahwa firman Allah t ersebut adalah sesuatu yang baru, sedangkan yang beranggapan bahwa firman Allah itu qadim adalah Ibnu Hambal dan Asy’ariah, dan kemudian meluas ke persoalan ketuhanan lainnnya, mempergunakan dalil-dalil akal “melebihi dalil naqli yang tampak pada perbincangan mutakallimin.
Dalam perkembangan ilmu-ilmu keislaman, antara Filsafat Islam dan Ilmu Kalam dapat dibedakan. Filsafat Islam mengandalkan akal dalam mengkaji objeknya, Allah, alam dan manusia, tanpa terikat dengan pendapat yang ada. Nash-nash agama hanya menajdi bukti untuk membenarkan temuana akal. Sebaliknya Ilmu Kalam mengambil dalil akidah sebagaimana tertera dalam wahyu, yang mutlak kebenarannya untuk mengkaji objeknya, Allah dan sifat-sefatnya, serta hubungan Allah denga alam dan manusia dan menjadikan filsafat sebagai alat yang membenarkan nash agama. Contohnya Filsafat Islam mengawali pembuktiannnya dengan argumentasi akal, barulah pembenarannya diberikan wahyu, sementara ilmu Kalam mencari wahyu yang bertbicara tentang keberadaan Tuhan, baru kemudian didukung oleh argumentasi akal. Walaupun objek dan metode kedua ilmu ini berbeda, tapi keduanya saling melengkapi dalam memahami Islam dan pembentukan aqidah Msulim.
Hubungan Filsafat Islam dengan Tasawwuf
Tasawwuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Muslim berada sedekat mungkin dengan Allah Swt, dapat dibedakan menjadi Tasawwuf Amali / Akhlaqy, dan Tasawwuf Falsafi. Dari pengelompokan ini tergambar adanya unsur-unsur kefilsafatan dalam menjelaskan maqomat (a-lfana’, al-baga’, Ittihad, hulul, wahadatu al-wujud). Adapun perbedaan antara Filsafat Islam dan tasawwuf dapat dijelaskan sebagai berikut: Objek filsafat membahas segala sesuatau yang ada, baik fisika maupun metafisika yang dikaji dengan memperguanakan argumentasi akal dan logika. Objek Tasawwuf pada dasarnya mengenal Allah, baik dengan jalan ibadah maupun melalui ilham dan intuisi. Karena itu Sufi disebut juga al-Ubbad ( ahli ibadah) dan al-Zuhhad (ahli zuhud).
Hubungan Filsafat Islam dengan Ushul Fikih
Dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan hukum diperlukan Ijtihad, yaitu usaha dengan mempergunakan akal dan prinsip kelogisan untuk mengeluarkan ketentuan-ketentuan hukum dari sumbernya. Mengingat pentinganya ijtihad, para pakar hukum islam mengangggapnya (Ijtihad) sebagai sumber hukum ketiga setelah al-qur’an dan Hadis. Termasuk dalam ijtihad adalah qiyas yakni menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada naskh hukumnya dengan hukum sesuatu yang lain yang ada naskh hukumnya atas dasar persamaan illat (sebab). Selain Qiyas ada juga al-istihsan dan al-Mashalih al-Mursalah.
Dari tiga contoh ilmu keislaman yang diutarakan, ketiganya memiliki hubungan dengan fislasat Islam, tergambar adanya peraturan yang saling mengisi. Hal ini terbukti dalam sejarah para Filsuf yang memadukan filsafat, ilmu dan agama menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.
Hubungan Filsafat Islam Dengan Filsafat Yunani
Pemikiran Yunani dapat dibagi kepada dua zaman:
1. Zaman Yunani atau Helenis
Zaman ini ditandai dengan munculnya pamikir-pemikir Yunani dari abad VI SM sampai akhir abad IV SM. Diantara pemikir-pemikir atau aliran-aliran itu adalah filsafat alam dari Milite yang cenderung Meterialistis, aliran atomistis yang didukung oleh Leukippos dan Demokritos, Kaum Elea yang bercorak mistis dan matematis, Kaum Sofist, Socrates, Plato, Aristoltes, dan aliran Peripetetik yantg menekankan pada aspek epistimilogi, etika, aksiologi dan kemanusiaan.
2. Zaman Helenistis-Romawi, yakni setelah Aristotles (322 SM). Dimulai dengan Pemerintahan Alexander the Great ( 356-326 SM).
Pada masa ini Filsafat Yunanai tidak hanya terjadi di Yunanai saja, tapi telah meluas sebagai warisan Yunani yang dikembangkan oleh orang-orang Romawi, dan oleh pemikir Mesir, Syria dan sekitarnya. Zaman ini diawali pada abad IV SM sampai pertengahan abad VI M di Romawi barat yang berpusat di Roma, dan di Byzantium (Romawi Timur) sampai pertengahan abad VII M yang berpusaat di Alexandria (Iskandariah). Dengan kata lain samapi munculnya era filsafat Islam yang ditandai dengan masa penerjemahan lewat lembaga Bait al-hikmah di Baghdad.
Helenistis-Romawi dapat dibedakan kepada tiga masa perkembangan. Pertama, dari akhir abad IV SM hingga pertengahan abad I SM, pada masa ini dikenal terdapat aliran Stoa, Epikurus, dan Skeptisisme. Kedua dari pertenganhan abad I SM hingga pertengahan abad III M. Di zaman ini terdapat aliran yang diantaranya aliran Stoa-akhir, Neo-Pythagoreanisme, Epikurus-akhir dan Hlenisme Yunani, zaman ini bersifat ekliktik. Ketiga dari pertengahan abad III M hingga pertengahan abad VI M di Romawi Barat, hingga abad VII M di Byzantium, di zaman ini ditandai dengan adanya dominasi pemikiran Neo-Platonisme yang lahir dan berkembang di Iskandaria.
Filsafat Yunani sendiri terbelah ke dalam dua aliran besar yang mana kedua aliran ini sering dan saling dipertentangkan satu sama lainnya, aliran yang dimaksud mengacu kepada pemikiran Plato dan Aristotles. Plato yang dalam kehidupannya bergaya mistis, menekankan olah pikir daripada apa yang dapat dialami atau ditangkap oleh penca indra. Dengan kata lain Plato lebih berpegang pada akal dan idea, serta mengabaikan empirisme. Corak berfikir Plato ini menjadi benih rasionalisme dalam menerangkan sesuatu, dan menjadi idealisme bila berkaitan dengan nilai. Lain halnya dengan Aristotles yang lebih menyenangi kehidupan meteri, dan lebih menekankan kepada cara berfikikr realis, karena itu ia sangat menjunjung tinggi empirisme, boleh jadi kecendrungannya tersebut dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang biologi dan kedokteran.
Pada awalnya negara-negara seperti Mesir dan Suriah yang kental dengan aroma filsafat Yunani, namun pada era Khulafa’ al-Rasyidun dan Daulah Umayah, Filsafat Yunani tersebut belum dikembangkan karena pada masa ini perhatian umat Islam terfokus pada penaklukan wilayah dan lebih menonjolkan kebudayaan Arab. Barulah pada zaman Daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad mulai diperhatikan secara serius Filsafat ini, terutama pada masa Al-Ma’muin (813-833 M) Putera Harun al-Rasyid, yang dikenal dengan zaman penerjemahan.
Sebenarnya Penerjemahan buku-buku kedalam bahasa Arab sudah dimulai semenjak permulaan Daulah Umaiyah, kegiatan ini disponsori oleh Khalifah Khalid ibn Yazid, tetapi buku-buku ilmiah yang diterjemahkan pada waktu itu masih berkaitan dengan keperluan praktis, seperti kimia dan kedokteran. Kegiatan penerjemahan mencapai zaman keemasannya pada masa Khalifah Al-Ma’mun, yang juga mendirikan bait al-hikmah.
Disaping Kota Baghdad, juga ada kota-kota lain yan dijadikan sebagai pusat pengembangan sanis dan filsafat, yaitu kota Marwa (Persia tengah), Jundisyapur, dan Harram. Penerjemahan ini bukan hanya buku-buku pengetahuan yang berbahasa Yunani tetapi juga bahasa Persia dan Suryani yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Dengan adanya Penerjemahan ini umat Islam telah mampu dalam waktu yang relatif singkat menguasai warisan intelektual dari tiga jenis kebudayaan yang sangat maju pada waktu itu, yakni Yunani, persia, dan India. Warisan intelektual tersebut dikembangkan oleh pemikir-pemikir Islam menjadi suatu kebudayaan yang lebih maju. Namun sangat disayangkan kejayaan Islam dan segala macam ilmuhnya hanya dapat berlangsung sampai abad XIII M, kemudian orang-orang barat memindahkan pusat ilmu pengetahuan tersebut Eropa. Dengan demikian, umat Islam saat ini harus bekerja ekstra keras kembali untuk meraih permata kita yang hilang, seolah-olah saat ini terjadi “helenisme gelombang ke II”. Jadi bersiaplah untuk merebut apa yang seharusnya kita miliki.
“ Wisdom is the lost property of the believer, take it sherever you fin it” [A3]
Langganan:
Komentar (Atom)